.....AND THE WORLD LIVE AS ONE....

Jumat, 17 Juni 2011

The Summer Sun - Coklat Dari Kobe

Ben masih menatap paket yang baru saja diantar Pak Pos ke ruang kerja di kantornya. Seumur-umur baru kali ini dia menerima paket dari luar negeri. Wuiiiih....rasanya luar biasa ya....bisa pamer juga ke rekan-rekan sekantor bahwa dia punya teman yang bermukim di luar negeri.
Telepon genggamnya berdering, lagi-lagi nomor yang tidak dikenal, lagi-lagi...pasti Aya.
"Udah nyampe paketnya...?", tanya suara cempreng itu tanpa prolog.
"Baru aja, thanks Ya...", jawab Ben.
"Gimana..? Lo suka..?", tanya suara itu lagi.
"Blom gue buka..."
"Buka aja, gak bakal meledak kok...ntar gue telpon lagi ya....". Klik. telepon langsung ditutup tanpa epilog, tanpa Ben sempat menjawab. Dia mulai merobek bungkus paket itu dan melihat isinya. Hmm....sekotak coklat dari Kobe House of Chocolate, gantungan kunci, lonceng musim panas dan selusin kartu pos dengan foto Kobe berbagai musim. Bikin iri memang, tapi Ben bersyukur Aya membagi ini dengan dirinya.
Dibukanya kotak coklat itu. Ben nyaris tertawa. Coklat-coklat sebesar permen dikemas dalam bungkusan-bungkusan cantik. Makanan ini pasti akan membuat senang anak-anak, sesuai dengan Aya yang selalu ceria dan menularkan keceriaan itu di tengah kegundahannya pagi ini gara-gara Danisa.
Walau tidak begitu suka coklat, Ben memakan salah satunya. Selai apel segar dari dalam coklat langsung mengaliri tengorokannya begitu dia mengunyahnya. Aya selalu penuh kejutan ya....
Perhatiannya beralih ke lonceng musim panas. Ben segera memasangnya di jendela, agar angin yang berhembus masuk bisa meniup dan dan membunyikan lonceng itu. Benar saja, begitu dipasang lonceng itu berdenting-denting tertiup angin. Ben menutup mata, menghirup segarnya udara, mendengarkan denting lonceng seolah mendengar suara seorang sahabat lama memanggil namanya. Suara dari 6 tahun yang lalu....

Bogor, Agustus 1998

"Boleh duduk di sini...?", sebuah suara menyadarkan Ben dari lamunan dan tanpa menunggu jawaban, makhluk itu langsung duduk di sebelahnya.
"Aya...", katanya memperkenalkan diri sambil menunjuk dirinya tanpa menyalami Ben sama sekali.
"Iya, udah tau....", jawab Ben tersenyum.
"Lo yang kost bareng anak-anak Padang kan..?", tanyanya lagi.
"Yoi, di Pulo Empang...."
"Waah, enak dong ya kost di situ...", kata Aya
"Enak apanya..? Pinggir kali ini..."
"Ya justru itu enak, banyak putri duyung di sana kan...hihihihi". Ben ikut tertawa. Tawa Aya memang gampang menular. Ben tahu persis yang dimaksud Aya dengan "putri duyung". Memang di kali Pulo Empang itu banyak orang-orang yang mandi dan mencuci setiap harinya dan itu sudah merupakan pemandangan tersendiri.
Dosenpun mulai memasuki ruangan. Kimia Polimer. Aya mulai terlihat serius. Dia memang bukan tipe orang yang akan mengobrol waktu dosen sedang menerangkan. Akan tetapi....
"Ben, lo ngerti gak tadi Pak Hasan menjelaskan apaan..?", tanyanya setelah kuliah selesai.
"Lumayan, meski agak bingung dikit sih...", jawab Ben
"Emang tadi dia neragin apaan ya...?", Aya menggaruk-garuk kepala. Kuncir rambutnya ikut bergoyang-goyang.
"Lha...bukannya tadi lo perhatiin? trus ngapain tadi lo ngangguk-ngangguk..?", tanya Ben heran.
"Asli sebenernya tadi gue melamun...hehehe...bengong, jadinya bingung...", jawab Aya jujur.
"Yaelah...Aya...Aya....", Ben tertawa. Bertemu setelah masa orientasi kampus selesai di sebuah kampus kecil sebelah Kebun Raya Bogor. Duduk tanpa basa-basi di sebelahnya, mendengarkan dosen menerangkan sambil mengangguk-angguk tanpa mengerti satupun maksudnya. Di kelas yang membingungkan karena banyak bengongnya ataukah jadi bengong karena bingung. Entahlah....Ben tidak tahu, tapi sejak saat itu dia memutuskan Aya sebagai salah satu temannya.

Rabu, 08 Juni 2011

The Summer Sun - Cinta dan Pizza (2)

Ada sepasang tangan yang tidak lelah mengetik. Input data....edit...edit....masukkan formula....revisi...revisi....terus-menerus. Ben menggeliatkan tubuhnya. Inilah resiko membawa pulang pekerjaan. Bahkan sabtu pagi yang cerahpun tidak terasa lagi indahnya gara-gara dia terus berkurung di ruang kerjanya.
Sejenak dia bangkit menuju dapur. Tidak ada makanan apapun yang bisa dimakannya. Hanya ada sekotak susu dingin di refrigerator yang langsung ditenggaknya tanpa ampun sembari berjalan menuju kebun belakang. Kebun itu masih kosong, tanpa sentuhan seorang penata taman, atau bahkan tanpa sentuhan seorang manusia sekalipun. Rumput-rumput dibiarkan tinggi menjulang hingga selutut Ben dan dia baru menyadari bahwa bukan kebunnya saja yang tidak terawat. Keseluruhan rumahnya nyaris tidak terawat.
Rumah ini baru ditempati Ben 3 bulan yang lalu. Bangga karena bisa membeli rumah dari hasil kerjanya sebagai seorang konsultan lingkungan. Tapi, konsultan lingkungan mana yang bahkan lingkungan tempat tinggalnya sendiri tidak terawat saking sibuknya bekerja? Ben teringat Aya dan sejenak dia merasa kega dengan kondisi rumahnya. Aya yang diingatnya bahkan jauh lebih berantakan ketimbang dirinya. Dan perasaan seperti itu membuat Ben memutuskan untuk memaafkan dirinya.
Rasa lapar mulai menderanya. Orang-orang bilang, inilah resiko bujangan, tidak ada yang mengurusi. Tapi, masa bodolah, usianya toh baru 25 tahun.
Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu. Sesuatu yang tiba-tiba saja terlupakan saat dia benar-benar sibuk. Mungkinkah ini bisa jadi kesempatan? Mungkin saja dia yang mengangkat telepon? Siapa tau, coba sajalah.
"Selamat Pagi, Pizza Corner Delivery Service, dengan Danisa di sini, ada yang bisa dibantu?". Dari seribu satu kemungkinan, kemungkinan inilah yang paling ditunggu Ben. Tapi saat kemungkinan berubah menjadi kesempatan, dia kembali tersurut.
"Ada yang bisa dibantu?", tanya suara itu lagi. Ada, boleh aku tahu nomor teleponmu?
"Oh iya, pesan Pizza dengan Tuna Melt ya....", pesan Ben agak gugup.
"Ok, ukurannya..?"
"Yang besar...". Aduh Ben, laper apa kesurupan?
"Pinggirannya....?"
"Keju....". Dasar bodoh, kamu kan gak suka keju! Bahkan secara keseluruhan kamu tidak suka Pizza, tolol!, sekarang Aya pasti tertawa kalau dia tahu semua ini.
"Atas nama siapa Pak?"
"Ben"
"Alamatnya?"
"Jalan Jambu No 5"
"Baik Pak, segera diantar. Ada lagi yang bisa dibantu?"
"Itu saja". Aku ingin mengenalmu lebih jauh.
"Baik, terima kasih...". Telepon ditutup. Jauh di dalam hatinya dia tahu ini takkan mungkin dilakukannya. Dicarinya sebaris nomor dalam memori telpon genggamnya.
"Halo...?", jawab suara di seberang sana.
"Doni, would you like to come for a pizza?"

Kamis, 26 Mei 2011

The Summer Sun - Cinta dan Pizza

Hujan kembali mengguyur Jakarta dan dia kembali masuk ke restoran yang sama, sebuah restoran pizza di salah satu sudut Jakarta. Matanya mencari-cari, agak sedikit kecewa karena yang dicarinya tidak kunjung terlihat. Tapi, dia tetap masuk, kembali duduk di sudut yang sama di dekat jendela. Seorang pelayan mengikutinya dan memberikan daftar menu.
"Silahkan dilihat menunya, kalo pesanannya sudah siap silahkan panggil Echa ya....", kata pelayan tersebut ramah.
"Mmm...saya ingin pesan cappuccino panas dan New Orleans Chicken Wings yang isi sepuluh ya....", pesannya langsung tanpa melihat daftar menu. Matanya masih meneruskan kegiatannya mencari-cari. Si pelayan seolah mengerti.
"Danisa hari ini shift malam...", katanya.
Dia terdiam atas pernyataan itu dan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Echa pun berlalu untuk menyiapkan pesanan. Sepi, sunyi, hujan. Bayangan buram di luar jendela.Makin buram diterpa hujan yang makin lama makin lebat, siap untuk membanjirkan Jakarta. Pikirannya berharap akan muncul sesuatu untuk mendistraksinya saat ini. Dan semesta seolah mengerti karena tiba-tiba saja telepon genggamnya berbunyi. Sebuah nomor yang tidak dikenal. Dia tersenyum...
"Assalamualaikum....", sapanya.
"Waalaikumsalam, Ben...lagi sibuk?", suara cempreng di seberang sana memberinya rasa hangat di tengah dinginnya hujan dan pendingin ruangan.
"Gak tuh, lagi santai malah....", jawabnya lagi.
"Buset dah Ben, temen gue ada yang hamil coba...", suara itu terdengar berapi-api, sangat menghibur.
"Hah..!? Yang bener lo...?"
"Yaelah..gak percaya, tapi udah dipulangkan sih 2 bulan yang lalu..sori baru sempet nelpon sekarang...."
"Gak pa-pa, gue juga tahu telpon internasional mahal..."
"Ah, gak mahal kok, ada kartu telpon khusus, 2000 yen bisa buat 2 jam....". Ben membayangkan 2000 Yen itu berapa rupiah ya....?
"Gimana? Senang di sono? Lagi musim apa,,,?"
"Ya ada senengnya, ada gak senengnya juga. Panjaaaaang ceritanya Ben, lagi akhir musim panas neh....buset panas banget di sini...". Suara itu selalu punya kekuatan untuk membuat Ben tersenyum.
"Ya pasti banyak senengnya dong, kan ini pertama kalinya lo keluar negri..."
"Iya siiih....eh lo ngapain...?"
"Ah enggak..."
"Jangan bilang lo lagi ada di restoran pizza....?"
"Memang di situ..."
"Dia ada...?"
"Shift malam...."
"Ya....lo kecewa dong....", tanpa basa-basi suara itu bicara.
"Ya iyalah dikit..."
"Kok cuma dikit..."
"Karena memang baru itu yang gue punya, Aya jeleeeek....". Senangnya bisa sedikit mengumpat karena Ben tahu Aya tidak akan marah.
"Dia udah tahu lo suka sama dia...?"
"Gak tahu...."
Diam. Lamaaa sekali.
"Aya...."
"Ya...."
"Kirain lo ketiduran...."
"Gue lagi mikir..."
"Emang lo bisa mikir...?". Tidak ada tanggapan. Ben tahu sekarang Aya mulai serius.
"Lo tembak langsung aja..."
"Wah....ide yang bagus Aya.....dasar oon !!", umpat Ben.
"Lho..?"
"Kan gue blom kenal orangnya..."
"Lo tu yang oon, blom kenal orangnya kok bisa suka...?". Nah lho, bener juga si Aya.
"Entahlah, pokoknya gue suka..."
"Lo sarap ya...."
"Mungkin..."
"Ya udah, gue mo bersepeda dulu ya...."
"Ok deh, enjoy your time ya, jangan lupa kirim kartu pos.."
"Siiip". Klik. teleponnya mati. Ben mulai menikmati cappuccinonya sambil memandang hujan di luar jendela. Di seberang sana, Aya bersepeda ditemani hangatnya matahari akhir musim panas. Keduanya sama-sama menarik nafas panjang. Dua sahabat lama yang sekarang terpisah jarak yang sangat jauh, sama-sama belum tahu apa yang dicari. Tapi yakin yang dicari pasti akan ditemukan.

Rabu, 25 Mei 2011

The Summer Sun - The First Cut is The Deepest (2)

Adalah sulit mengembalikan kepercayaan yang sudah terlanjur dikhianati. Terus terang Aya merasa bersalah. Tapi, dia tidak pernah tahu bahwa setitik rahasia juga bisa lolos dari pengawasannya. Toh, dia kan bukan Tuhan yang Maha Segalanya. Aya mencoba menghibur diri dengan kenyataan bahwa diapun manusia biasa. Akan tetapu, menatap wajah Papa saat ini, kalimat hiburan macam apapun takkan mampu mengobati. Luka yang pertama adalah yang terdalam. Aya tahu itu.
Nia juga kehilangan kata-kata. Begitupun yang lain. Yulida bahkan tidak berani menawarkan kopi. Semua kehilangan kata-kata. Sudah dua bulan ini Papa diam, tidak banyak bicara, sejak masalah Nilda. Dan membangun kepercayaan kembali itu bukan main susahnya.
"Aya-chan...", panggil Papa setelah proses diam-diam yang rasanya tanpa akhir.
"Ya, Papa...", jawab Aya segera sambil menatap Papa.
"Mo ii no yo, sudahlah, jangan mendiamkan Papa begitu lama ya....", jawab Papa. Mata yang berkilau itu bersinar hangat, tidak ada kemarahan di sana. Aya dan kawan-kawan kontan melongo.
"Papa okottenai no? tidak marah?", tanya Aya masih terheran-heran.
"Lho, bukannya kalian yang marah sama Papa gara-gara Papa pulangkan teman kalian?"
"Wah, gak deh Papa....kirain Papa yang marah....", suara cempreng Rara nimbrung tanpa menyembunyikan kelegaan dalam suaranya.
"Kenapa marah? Kan bukan salah kalian...."
"Syukurlaaaah......", Aya lega. Selega-leganya seolah ada yang mengangkat beban yang teramat berat di kepalanya.
"Papa mo kopi...?", tawar Yulida langsung sambil berdiri.
"Sato irenai yatsu...gak pake gula ya...", jawab Papa.
Udara di akhir musim panas terasa ringan walaupun matahari bersinar terik. Luka yang pertama memang yang terdalam, tapi kita selalu punya cara untuk mengobatinya bukan?

Selasa, 26 April 2011

The Summer Sun - The First Cut is The Deepest

Lagu-lagu The Beatles itu mengalun sayup-sayup dari sebuah CD Player dalam kamar paling depan. Minggu pagi yang cerah tapi Nia mengeluh. Ini sudah yang kesekian kalinya dia memohon pada Leader mereka yang terhormat itu untuk tidak lagi menyalakan lagu-lagu itu. Bukan apa-apa. Dia hanya terganggu.
"Aya....Aya....udahan dong The Beatlesnya...dari semalem gak brenti-brenti. Gue jadi gak bisa bobok nih say....", Nia memohon sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Aya. Tidak ada sahutan dari si empunya kamar.
"Aya....please udahan ya....". Nia masih ngotot memohon walaupun si pemilik kamar tidak menjawab. Wajarlah Nia kesal. Lagu-lagu The Beatles itu sudah terdengar dari semalam dan ini sudah jam 11 pagi.
Nia masih terus mengetuk pintu beberapa kali hingga sebuah suara di belakangnya membuatnya berhenti. Pintu geser terbuka dan Aya masuk ke genkan.
"Assalamualaikum....", salamnya polos. Ha...jadi sedari tadi orang ini tidak ada di rumah..? Dasar Aya monyong..!
"SITI NURBAYAAAAA.....", teriaknya kesal sampai seisi rumah dibuat kaget. Rara langsung keluar dari kamar mandi. Vivi dan Yulida yang sedang memilah-milah sampah di dapur juga bergegas keluar.
"Ada apa sih...?", tanya Rara. Maklum sedang seru-serunya berendam, tiba-tiba aja ada gempa bumi dadakan.
"Tau nih, Nia....kirain ada maling...", timpal Vivi. Yulida manggut-manggut lalu kembali ke sampah-sampahnya.
"Ini nih tersangkanya....", suara Nia masih melengking,"...gue udah capek dengerin The Beatles dari kamarnya, gue udah ketok-ketok pintu kamarnya....eh ternyata dia gak ada di rumah, tau deh dari mana....
"Gue abis belanja...", Aya berusaha menjelaskan.
"Dengan meninggalkan CD player on...?", tanya Nia tajam.
"Sori, gak sengaja...kelupaan....maaf ya temen-temen...."
"Ya udah gak pa-pa kok...", jawab Rara santai sambil masuk kembali ke kamar mandi.
"Enak aja....", Nia menolak permintaan maaf Aya.
"Maafin dong...", bujuk Aya. Nia masih menggeleng.
"Es krim...es krim....", tawar Aya seraya mengacungkan bungkus es krim ke depan hidung Nia. Nia langsung menyambar es krim tersebut dan memakannya. Permintaan maaf diterima.
"Tumben lo belanja...", Nia tiba-tiba teringat Aya bukanlah orang yang suka berbelanja, apalagi banyak begini.
"Persiapan menyambut Taifu...", jawab Aya.
"Hah! Mo ada badai ya...? Udah nyampe mana...?", Nia panik. Taifu atau badai yang disertai angin kencang memang biasa terjadi terutama di akhir musim panas dan peralihannya ke musim gugur.
"Tuh...udah nyampe depan rumah....", jawab Aya cuek.
"Masa sih...?", Nia menoleh...", ....eh itu kan Papa...". Aya mengangguk.
"Tapi, bukannya beliau masih marah gara-gara Nilda. Udah 2 bulan jarang ke sini, ngomong seperlunya aja...", kata Nia.
"Makanya, tadi pagi jam 5 Papa datang, katanya ada yang mo diomongn ntar siang, makanya gue buru-buru belanja..."
"Kira-kira Papa mo ngomong apa ya...?". Aya mengangkat bahu. Papa Fukui berjalan menuju rumah.

Jumat, 22 April 2011

The Summer Sun - Hagiwara Jingga (5)

Hagiwara, sebuah sudut di Pulau Shikoku di sebelah selatan Jepang. Hagiwara hanyalah sebuah kampung dengan satu kantor wilayah, satu perpustakaan umum, satu taman dan banyak toko-toko kecil. Kota kecil ini dilindungi sebuah gunung yang disebut Unpenji. Di puncak Unpenji terdapat Jinja yang juga disebut Unpenji. Terus ke arah pegunungan, adalah daerah Jike dan Gogo, tempat kedai udon lezat yang bernama Ishi berada.

Hagiwara dikelilingi ladang-ladang luas yang berwarna warni sepanjang tahun. Memang mata pencarian penduduk di sini umumnya adalah bertani.
Pada musim panas bulan Juni hingga Agustus, daun bawang, seledri, terong, kentang, tomat dan komoditas musim panas lainnya menjadi primadona. Bulan Agustus, kome atau padi pun mulai dipanen. Memanen padi di Jepang adalah pekerjaan mudah, sama seperti menanamnya. Semua dikerjakan mesin. Mesin pemanen padi yang mirip traktor itu disebut konbea. Si petani tinggal menyetir konbea tadi masuk ke ladang dan berputar-putar di sepanjang ladang. Hasilnya adalah beras yang sudah masuk karung yang terletak di kedua sisi konbea dan sekam di dalam tempat sekamnya. Canggih memang, tidak makan waktu, tidak makan tenaga, hanya bermodalkan solar untuk konbea. Beras tadi di simpai di Rice Centre untuk kemudian dipasarkan oleh Hounan Nogyo. Begitu juga sayuran hasil pertanian, semuanya disensor, dikemas dengan kemasan bagus dan dipasarkan oleh Hounan Nogyo ke Osaka, Kobe, Nagoya dan Tokyo.


Pada musim gugur dan musim dingin, yang mendominasi adalah lettuce, baik yang hijau ataupun yang kemerahan. Menjelang musim semi, bawang bombay dan jeruk mengambil peranan. Begitu banyaknya panen, tak jarang Aya dan kawan-kawan mendapatkan berkeranjang-keranjang hasil bumi hingga mereka tidak perlu lagi membeli. Semua petani di sini sejahtera karena hasil pertanian mereka dijamin oleh Hounan Nogyo, jadi baik atau buruk hasil panen mereka pasti dibeli.Bisakah ini dialihteknologikan di tanah air? Mungkin saja.
Masyarakat Hagiwara saling mengenal satu sama lain. Hampir semua ramah. Salah tata bahasa sedikit, mereka pasti menolong memperbaiki. Akan tetapi, mereka tidak akan segan membicarakan keburukan orang lain di hadapan orang yang mereka maksud. Begitulah. Soal disiplin, umunya mereka disiplin, walau ada beberapa pengecualian. Papa Fukui misalnya, dengan cueknya beliau membuang kotak minuman dan puntung rokok ke alam selokan Hounan Nogyo. Apa yang bisa dikatakan Aya ketika dia memergoki hal ini? Dalam hati dia ingin tertawa. Sementara Papa Fukui cengar-cengir dengan wajah tanpa dosa. Siapa bilang orang Jepang tidak pernah membuang sampah sembarangan? Ditambah lagi kebiasaan beliau yang seenaknya saja merokok dalam mobil tertutup saat AC sedang nyala. Is...is...is....:D
Mereka berlima sedang menikmati minggu pagi yang cerah di taman Hagiwara, sambil menikmati keripik kentang dan Lipton Lemon Tea dingin. Soal keripik kentang ini, demi rasa ingin amat sangat, Aya dan kawan-kawan berulang kali membaca bahan-bahan yang tertera di kemasan. Setelah yakin tidak ada kanji bertuliskan babi, barulah mereka berani membeli. Belakangan memang hanya keripik kentang Calbee kemasan merah itu yang tidak memiliki kanji babi pada kemasannya.
Minggu pagi yang cerah, secerah langit Hagiwara. Untuk sesaat mereka melupakan Nilda. Untuk sesaat mereka tidak lagi memikirkan mau apa kalau pulang nanti. Yang ada sekarang hanya mereka dan Hagiwara.

The Summer Sun - Hagiwara Jingga (4)

Aya bergegas mandi lalu menyalakan pendingin ruangan. Buset...!! Panas banget gimana bisa dandan kalo gini?, batinnya. Baru selesai mandi aja keringat udah ngucur lagi. Nenek Nishino sepertinya sudah datang dan sedang memakaikan Yukata pada Rara. Semua berkumpul di kamar Yulida dan Vivi karena memang kamar itu yang paling besar. Nia sedang menunggu giliran. Yulida dan Vivi sudah dari tadi selesai. Sekarang keduanya sedang mendandani rambut masing-masing. Yulida dan Vivi terlihat cantik sekali dalam Yukata mereka yang berwarna senada, biru dengan motif bunga dan obi berwarna merah jambu. Tapi, Yulida dan Vivi memang pada dasarnya cantik.
"Waaah....udah siap aja neh...", kata Aya kagum. Dengan santainya dia masuk ke dalam kamar.
"Ayaaaa.....", Rara berteriak kaget. Yulida tersenyum geli sedangkan Vivi belum juga menyadari keadaan.
"Kenapa sih teriak-teriak...", celutuknya berwibawa.
"Itu tuh, si Aya, Leader kita yang terhormat, masa masuk ke sini cuma pake handuk", Rara yang sedang dipasangi obi menjawab.
"Ehehehe....gak pa-pa, sekali-sekali, kan sesama cewek ini", jawab Aya cuek.
"Lo gak malu ama nih Nenek?", Nia bertanya sambil melirik Nenek Nishino. Yang dilirik sepertinya tidak menyadari bahwa dia sedang dibicarakan. Dengan tekun Nenek Nishino membuat pita obi di pinggang Rara.
"Nah selesai....", gumamnya sambil bangkit dari jongkoknya. Aya bergegas kabur ke kamarnya sebelum Nenek Nishino menyadari kehadirannya.
Nia segera menghampiri Nenek Nishino untuk dipakaikan Yukata. Yukata Nia sengaja dipilihkan yang paling panjang oleh Nenek Nishino karena Nia memiliki tinggi 172 cm. Dia memang yang paling tinggi dan paling semampai di antara mereka.  Yukata cantik yang dipilihkan Nenek Nishino pas sekali untuk Nia. Yukata berwarna hijau muda dengan obi berwarna kuning. Begitu Nia selesai, Aya kembali lagi kali ini dengan celana pendek dan tank top, siap untuk dipasangkan Yukata.
"Kochi oide, Aya chan", Nenek Nishino menyuruhnya mendekat. Yukata berwarna dongker dengan motif bunga-bunga putih itu dipasangkan pada Aya. Entah kenapa, walaupun warna dasar Yukata itu gelap tapi terlihat serasi dengan warna kulit Aya yang kecoklatan. Pilihan Nenek Nishino memang tidak perlu diragukan. Yukata itu dipasang dengan bagian kiri di atas yang kanan. Hal ini dikarenakan Yukata yang bagian kanannya berada di atas yang kiri hanya dipakaikan pada orang yang meninggal.
Dua buah tali berwarna merah muda diikatkan di bagian dada bawah dan di pinggang Aya, lalu dililitkan obi cantik berwarna kuning muda.
"Hmm...Aya chan no mune chiisai ne....chodo ii wa....", komentar Nenek Nishino disambut tawa yang lain. Aya mendelik.
"Kenapa sih Nek, dada yang kecil paling cocok memakai Yukata?", tanya Aya kesal. Bagaimana tidak, yang dibicarakan itu kan dadanya.
"Karena tidak begitu terlihat perbedaan antara pinggang dan dada", jelas Nenek Nishino. Aya manggut-manggut. Nenek Nishino menolong menguncir rambutnya.
"Nah begini sudah manis, yuk berangkat". Semua berjalan keluar mengenakan geta atau bakiak masing-masing lalu masuk ke mobil minibus milik Nenek Nishino. Sudah jam 8 malam, pasti sudah ramai orang-orang di Sasamatsuri.
Sasamatsuri adalah festival musim panas. Secara harfiah, Sasamatsuri berarti festival bambu. Memang banyak bambu-bambu mini di sekitar area festival. Selain itu juga banyak stand yang menjual berbagai makanan. Ada takoyaki, gurita cincang yang dibalut adonan tepung lalu dipanggang dalam cetakan, lalu ada yakitori yang irip dengan sate ayam, ada tempura atau goreng-gorengan.
Sasamatsuri berlangsung 1 malam saja di Hagiwara Jinja. Dalam Bahasa Indonesia, Jinja diartikan kuil, akan tetapi kuil yang disebut Jinja adalah kuil yang dikhususkan untuk orang berdoa dan meminta pada Kamisama atau Tuhan. Ada satu jenis kuil lagi yang disebut Tera atu Otera yang dikhususkan untuk orang-orang yang sudah meninggal.
Sebentar saja Aya sudah berjalan-jalan bersama Nia sambil membawa sekotak ebi tempura atau udang goreng dan yakitori. Wah, seandainya Ibunya Aya di Padang melihat kelakuan anak gadisnya ini, Aya pasti sudah kena jewer. Bagaimana tidak, dengan cuek dia makan sambil jalan-jalan. Sedangkan Nia asik menikmati tusuk demi tusuk yakitori. Vivi dan Yulida duduk-duduk di bangku taman depan Jinja. Rara dan Nenek Nishino sedang ngerumpi bersama teman Nenek Nishino yang kebetulan bertemu.
Aya menikmati ini semua. Sebuah kebebasan yang aneh walau di sisi lain dia kangen pulang, tapi sudah tidak separah waktu pertama kali dia menginjakkan kaki di negeri Sakura. Nia, sahabat dekatnya seolah mengerti isi pikirannya.
"Udah, gak usah mikir yang aneh-aneh, nikmati aja ini semua...", katanya sok bijak. Aya meliriknya dengan sudut mata.
 "Lo makan ayam....", jawabnya ketus.
"Iya, lalu....? Kan ini higienis...", Nia tersenyum.
"Itu bangkai.....", lanjut Aya lagi.
"Well....Aya...Aya...Aya....ini halal...", kilah Nia.
"Halal gimana...?", tanya Aya ngotot.
"Kan sebelum makan udah gue kasih Bismillah, jadi gue putuskan ini halal..."
"Enak aja lo, bangke tetep aja bangke. Udah jadi bangke sebelum lo ngomong Bismillah...."
"Lha udang lo gimana...?"
"Ini kan udang, makanan laut, halal dong"
"Itu bukan sekedar udang, itu UDANG GORENG TEPUNG, siapa yang jamin minyak gorengnya tidak sama dengan sosis babi goreng, siapa yang jamin penggorengannya sama....hayoooo"
Aya terhenyak memandang Nia dan kebenaran yang dia ungkapkan. Mereka berdua bergidik, lalu mencari tong sampah. Malam sudah semakin larut. Nenek Nishino mengantar mereka pulang. Aya dan Nia terdiam seribu bahasa. Berbagai pikiran berkecamuk di kepala mereka. Hagiwara, itu gak halal kan ya..? Hiiii......