.....AND THE WORLD LIVE AS ONE....

Jumat, 17 Juni 2011

The Summer Sun - Coklat Dari Kobe

Ben masih menatap paket yang baru saja diantar Pak Pos ke ruang kerja di kantornya. Seumur-umur baru kali ini dia menerima paket dari luar negeri. Wuiiiih....rasanya luar biasa ya....bisa pamer juga ke rekan-rekan sekantor bahwa dia punya teman yang bermukim di luar negeri.
Telepon genggamnya berdering, lagi-lagi nomor yang tidak dikenal, lagi-lagi...pasti Aya.
"Udah nyampe paketnya...?", tanya suara cempreng itu tanpa prolog.
"Baru aja, thanks Ya...", jawab Ben.
"Gimana..? Lo suka..?", tanya suara itu lagi.
"Blom gue buka..."
"Buka aja, gak bakal meledak kok...ntar gue telpon lagi ya....". Klik. telepon langsung ditutup tanpa epilog, tanpa Ben sempat menjawab. Dia mulai merobek bungkus paket itu dan melihat isinya. Hmm....sekotak coklat dari Kobe House of Chocolate, gantungan kunci, lonceng musim panas dan selusin kartu pos dengan foto Kobe berbagai musim. Bikin iri memang, tapi Ben bersyukur Aya membagi ini dengan dirinya.
Dibukanya kotak coklat itu. Ben nyaris tertawa. Coklat-coklat sebesar permen dikemas dalam bungkusan-bungkusan cantik. Makanan ini pasti akan membuat senang anak-anak, sesuai dengan Aya yang selalu ceria dan menularkan keceriaan itu di tengah kegundahannya pagi ini gara-gara Danisa.
Walau tidak begitu suka coklat, Ben memakan salah satunya. Selai apel segar dari dalam coklat langsung mengaliri tengorokannya begitu dia mengunyahnya. Aya selalu penuh kejutan ya....
Perhatiannya beralih ke lonceng musim panas. Ben segera memasangnya di jendela, agar angin yang berhembus masuk bisa meniup dan dan membunyikan lonceng itu. Benar saja, begitu dipasang lonceng itu berdenting-denting tertiup angin. Ben menutup mata, menghirup segarnya udara, mendengarkan denting lonceng seolah mendengar suara seorang sahabat lama memanggil namanya. Suara dari 6 tahun yang lalu....

Bogor, Agustus 1998

"Boleh duduk di sini...?", sebuah suara menyadarkan Ben dari lamunan dan tanpa menunggu jawaban, makhluk itu langsung duduk di sebelahnya.
"Aya...", katanya memperkenalkan diri sambil menunjuk dirinya tanpa menyalami Ben sama sekali.
"Iya, udah tau....", jawab Ben tersenyum.
"Lo yang kost bareng anak-anak Padang kan..?", tanyanya lagi.
"Yoi, di Pulo Empang...."
"Waah, enak dong ya kost di situ...", kata Aya
"Enak apanya..? Pinggir kali ini..."
"Ya justru itu enak, banyak putri duyung di sana kan...hihihihi". Ben ikut tertawa. Tawa Aya memang gampang menular. Ben tahu persis yang dimaksud Aya dengan "putri duyung". Memang di kali Pulo Empang itu banyak orang-orang yang mandi dan mencuci setiap harinya dan itu sudah merupakan pemandangan tersendiri.
Dosenpun mulai memasuki ruangan. Kimia Polimer. Aya mulai terlihat serius. Dia memang bukan tipe orang yang akan mengobrol waktu dosen sedang menerangkan. Akan tetapi....
"Ben, lo ngerti gak tadi Pak Hasan menjelaskan apaan..?", tanyanya setelah kuliah selesai.
"Lumayan, meski agak bingung dikit sih...", jawab Ben
"Emang tadi dia neragin apaan ya...?", Aya menggaruk-garuk kepala. Kuncir rambutnya ikut bergoyang-goyang.
"Lha...bukannya tadi lo perhatiin? trus ngapain tadi lo ngangguk-ngangguk..?", tanya Ben heran.
"Asli sebenernya tadi gue melamun...hehehe...bengong, jadinya bingung...", jawab Aya jujur.
"Yaelah...Aya...Aya....", Ben tertawa. Bertemu setelah masa orientasi kampus selesai di sebuah kampus kecil sebelah Kebun Raya Bogor. Duduk tanpa basa-basi di sebelahnya, mendengarkan dosen menerangkan sambil mengangguk-angguk tanpa mengerti satupun maksudnya. Di kelas yang membingungkan karena banyak bengongnya ataukah jadi bengong karena bingung. Entahlah....Ben tidak tahu, tapi sejak saat itu dia memutuskan Aya sebagai salah satu temannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar